Mengapa Fashion – Siapa yang tidak kenal dengan dunia fashion? Dunia yang katanya bisa membuat seseorang terlihat lebih percaya diri dan bahkan lebih dihormati. Tapi, apakah Anda pernah bertanya-tanya, mengapa pakaian yang kita kenakan bisa mempengaruhi bagaimana orang menilai kita? Apakah benar fashion adalah ekspresi diri, atau justru sebuah jebakan sosial yang menuntut kita mengikuti tren demi mendapatkan pengakuan? Di luar sana, ada orang yang rela menghabiskan uang berbulan-bulan hanya untuk membeli sepatu, tas, atau pakaian yang harganya selangit—semata-mata demi terlihat “pantas” di mata masyarakat. Inilah ironi terbesar dalam dunia fashion: pakaian yang seharusnya menjadi sarana ekspresi diri malah jadi alat untuk mengukuhkan hierarki sosial yang memisahkan kita menjadi kelas-kelas tertentu.
Tren: Mengapa Kita Terjebak?
Setiap musim, fashion selalu hadir dengan “tren” baru yang katanya harus di ikuti. Namun, pernahkah Anda merasa bahwa tren ini lebih banyak berfungsi sebagai perangkap daripada sebagai sarana untuk mengekspresikan diri? Tren selalu datang dan pergi dengan sangat cepat, sehingga Anda harus terus membeli dan mengganti koleksi pakaian Anda. Inilah yang membuat dunia fashion seperti sebuah mesin yang tak pernah berhenti menggiling uang Anda. Seseorang yang terlihat ketinggalan tren, akan langsung di cap kuno atau bahkan “ketinggalan zaman”. Padahal, apakah benar pakaian yang kita kenakan seharusnya menjadi ukuran kemampuan kita dalam mengikuti sesuatu yang terus berubah ini?
Harga vs. Kualitas: Apakah Semua Yang Mahal Itu Bagus?
Pernahkah Anda merasa bahwa sebuah pakaian yang berharga fantastis itu memiliki kualitas yang luar biasa? Sayangnya, banyak brand-brand besar justru memanfaatkan label harga tinggi sebagai taktik pemasaran untuk membenamkan kita dalam ilusi kualitas. Sebuah tas yang harganya setara dengan gaji bulanan seseorang tidak selalu memberikan kualitas yang sebanding. Ini adalah salah satu wajah fashion yang penuh penipuan. Bukan karena kualitas yang di tawarkan, tetapi karena harga yang di bayar lebih kepada status dan nama besar daripada material dan daya pakai. Fashion sudah berubah menjadi simbol prestise yang lebih berorientasi pada tampilan daripada kenyamanan atau kegunaan.
Pakaian sebagai Perhiasan Sosial
Di dunia modern, fashion lebih dari sekadar kebutuhan dasar. Ia telah menjadi alat untuk menunjuk-nunjukkan status sosial. Bagaimana Anda bisa di sebut sebagai bagian dari “kalangan atas” jika Anda tidak mengenakan pakaian dari desainer terkenal? Di sini, fashion bertransformasi menjadi perhiasan sosial yang hanya bisa di pamerkan oleh mereka yang mampu. Baju mahal, sepatu mewah, dan tas branded menjadi simbol yang menandakan bahwa Anda memiliki sesuatu yang tak dimiliki orang lain. Namun, apakah mereka yang tidak bisa membeli pakaian mahal harus merasa rendah diri? Pakaian, yang seharusnya menjadi bagian dari kepribadian, justru menjadi slot sosial yang membedakan kita dari mereka yang tidak mampu mengikuti “kode pakaian” ini.
Fashion vs. Kesehatan Mental
Anehnya, dunia fashion tidak hanya menciptakan ketidaksetaraan sosial, tetapi juga menambah beban mental. Pernahkah Anda merasa cemas atau minder hanya karena merasa penampilan Anda tidak cukup “fashionable”? Ketika setiap orang berlomba untuk tampil sempurna dengan pakaian dari brand terkenal, tekanan untuk terus mengikuti gaya hidup ini bisa membuat seseorang terjerat dalam spiral keinginan yang tak pernah berujung. Keinginan untuk selalu terlihat trendi dan “on point” bisa merusak rasa percaya diri seseorang. Hal ini menyebabkan banyak orang lebih fokus pada penampilan luar ketimbang kualitas hidup yang sebenarnya.
Fashion seharusnya menjadi medium ekspresi diri. Namun, ketika kita terjebak dalam budaya konsumtif dan perbandingan sosial, kita justru kehilangan esensi dari pakaian itu sendiri. Dunia fashion, yang seharusnya memberi kebebasan, kini sering kali menjadi penjara yang mengurung kita dalam siklus pembelian yang tak ada habisnya.