Kampung Edukasi Sampah Dinobatkan Sebagai Kampung Terinovasi

Warga kampung edukasi sampah saat melakukan gerak jalan di Sidoarjo beberapa waktu lalu. Photo : Dok

SiagaIndonesia – Bupati Sidoarjo, H. Saiful Ilah menobatkan RT.23 RW.07 Kelurahan Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo atau yang lebih dikenal sebagai “Kampung Edukasi Sampah” sebagai Kampung yang terinovasi di Kabupaten Sidoarjo.

Penghargaan disampaikan pada saat malam Penganugerahan Sidoarjo Bersih dan Hijau (SBH) Zero Waste Academy 2017-2018 kepada Edi Priyanto, Ketua RT.23 RW 07 Kelurahan Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo, di Alun-alun Sidoarjo, Sabtu, 10 Maret 2018.

Kompetisi Zero Waste yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo ini bertujuan agar merubah mindset masyarakat Sidoarjo dalam hal pengelolaan sampah yang baik dan benar. Mengingat masih banyak dijumpai sampah yang menyebar di tempat yang tidak semestinya di kawasan Sidoarjo, seperti pinggir jalan, sungai, dan lainnya.

Sementara, salah satu program DLHK Kabupaten Sidoarjo adalah mewujudkan manajemen sampah yang baik sehingga kebersihan dan keindahan di Kabupaten Sidoarjo akan semakin meningkat dengan tata kelola sampah yang benar.

Camat Sidoarjo Kota, Agus Maulidy, M.Si yang turut hadir di malam penganugerahan itu mengaku turut gembira atas capaian dan prestasi Kampung Edukasi Sampah RT.23 Kelurahan Sekardangan yang berhasil memborong 4 penghargaan dari 4 kategori yang berbeda.

“Kepedulian terhadap pemilahan dan pengolahan sampah tidak hanya terfokus pada saat kegiatan lomba saja. Namun, masyarakat juga harus memiliki kebiasaan (habbit) untuk melakukan pengelolaan sampah sehari-harinya dan hal ini telah dilakukan di Kampung Edukasi Sampah,” ujar Agus Maulidy.

Selanjutnya Agus berharap program kompetisi seperti ini terus dilaksanakan agar mampu memotivasi masyarakat guna mewujudkan sebuah budaya hidup bersih di kalangan masyarakat Sidoarjo.

“Saya mengapresiasi semangat warga RT.23 Sekardangan yang telah peduli terhadap lingkungan, penanganan sampah dilakukan oleh masyarakat dan sampah bisa menjadi bermanfaat karena memiliki nilai ekonomis,” terang Santoso Kepala Kelurahan Sekardangan, yang juga hadir di acara tersebut.

Santoso kembali menyebutkan bahwa tak hanya melakukan pemilahan dan pengolahan sampah, namun RT.23 Sekardangan saat ini telah dijadikan role model dalam pembelajaran tentang pengelolaan sampah, mulai dari sampah rumah tangga dan sampah di sekitarnya untuk diolah menjadi kompos maupun aneka ketrampilan lainnya.

“Sehingga tidak berlebihan apabila kampung yang telah dikenal dengan Kampung Edukasi Sampah ini dinobatkan sebagai kampung terinovasi di Sidoarjo oleh Bapak Bupati Sidoarjo,” tegas Santoso, dengan rasa bangga.

Sementara, Ketua RT.23 Sekardangan, Edi Priyanto yang juga diganjar sebagai Presenter Terbaik dalam Program Sidoarjo Bersih dan Hijau (SBH) 2017-2018 tersebut, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Sidoarjo dan Pemerintah Sidoarjo dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup & Kebersihan (DLHK) yang telah mendampingi dan mendukung sepenuhnya pelaksanaan pengelolaan sampah dan lingkungan yang benar di lingkungan RT-nya. Edi meyakini apa yang telah diupayakan Pemkab Sidoarjo dengan penyelenggaraan Sidoarjo Bersih dan Hijau (SBH) Zero Waste Competition ini akan memberikan dampak yang besar kepada masyarakat Sidoarjo khususnya dalam hal perubahan kebiasaan memilah dan mengolah sampah dengan benar.

Sebelumnya RT. 23 Kelurahan Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo telah merintis kampungnya menjadi sebuah “Kampung Edukasi Sampah” bagi para generasi muda. Saat ini Kampung Edukasi Sampah itu telah mulai ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah lain khususnya para pelajar dari berbagai sekolah untuk belajar mengelola sampah seperti bagaimana pengolahan sampah rumah tangga menggunakan Komposter Tong Takakura maupun Komposter Aerob serta pembuatan pupuk cair organik yang juga berasal dari sampah rumah tangga.

Pengunjung juga sekaligus dapat berwisata karena, di lokasi Kampung Edukasi Sampah juga telah tersedia banyak spot tiga dimensi (3D) untuk berfoto ria selfie dan wefie maupun sekedar bermain permainan tradisional tempo dulu seperti aneka engklek, gobak sodor, ular tangga, boi boian, dan permainan lainnya. Beberapa sekolah juga telah memanfaatkan untuk kegiatan outing bagi siswa-siswinya dengan memperkenalkan permainan tradisional tempo dulu sekaligus menjajalnya. Hal penting lainnya pengunjung juga dikenalkan berbagai macam tanaman obat-obatan beserta manfaatnya, juga bisa melihat secara langsung proses pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga.

Edi menyebut, sarana permainan tradisional selain untuk melestarikan dan menjaga nilai tradisi juga dapat mengurangi ketergantungan penggunaan gadget pada anak-anak.”

Di Kampung Edukasi Sampah juga kami sediakan rumah baca yang berisi buku bacaan anak-anak guna memperluas wawasan, disamping itu juga tersedia permainan wayang anak dan lintasan tamiya yang terbuat dari kardus bekas. Silakan, siapa saja yang ingin datang ke kampung kami,” ucap Edi.(TJI)