Cintamu Adalah Bahagiaku

gambar romantis 1

Berdiri di sebuah suasana yang begitu sunyi dan tak dapat ku temui siapa pun. Hati ini mengharapkan ketenangan yang abadi. Kamu begitu berarti untuk kulupakan. Ketika cuaca mulai mendung dan hari mulai petang ku langkahkan kakiku ke halte bus. Dengan tatapan mata yang begitu aneh tersorot dari seorang laki-laki di seberang jalan yang sedang memperhatikanku. Aku seperti mengenalinya. Ternyata ia adalah Daviet, seseorang yang sudah begitu akrab denganku akhir-akhir ini. Tak sedikit pun rasanya ingin berpaling darinya. Dia mulai mendekatiku yang tengah duduk sendirian di tengah gerimis hujan.

“Hm.. Lama banget sih Ma?” ucap Daviet.
“Maksud kamu apa (bingung)?” balasku.
“Udah ayo naik sebelum hujannya makin deras,” ajaknya.
“Maksud kamu apa sih?” jawabku dengan bingung.
“Udah ayo!” paksanya. Aku hanya bisa mengikuti perintahnya. Terjadi percakapan yang asyik di sepanjang jalan dengannya. Dia sengaja menjemputku hari ini karena ia tahu hari ini pasti akan hujan. Aku memintanya mengantarku sampai perempatan jalan menuju rumahku karena aku tahu pasti aku bakal kena marah dan jadi perbincangan orang di sekitarku.

“Makasih ya Viet,” ucapku.
“Bener nih cuma sampai sini aja?” tanyanya.
“Iya.. Sekali lagi makasih,” balasku.
“I miss you Rahma,” ucapnya seraya berlalu.
Dengan rasa bahagia aku senyum-senyum sendiri. Sesampainya di rumah aku langsung menghubunginya.

“I miss you too,” ucapku seketika.
“Apa ma nggak dengar?” ucapnya di kejauhan sana.
“I miss you too,” balasku.
“Hm.. Ku sayang banget sama kamu Ma. Kamu mau nggak?”
“Mau banget,” ucapku keceplosan.
“Mau apa Ma aku belum selesai ngomong loh?” balasnya dengan ketawa yang begitu menyejukkan hati.
“Hehe,”

“Kamu mau nggak Ma jadi pacar pacarku? Sebenarnya aku tadi pengen ngomong langsung tapi mulut ini gak bisa mengungkapkannya ”
Aku terdiam sambil senyum.
“Ma,”
“Seperti yang udah aku jawab tadi.”
“Makasih Ma. Besok mau kan aku ajak jalan-jalan sepulang sekolah. Entar kamu aku jemput ya,”
“Iya,” aku langsung terburu-buru mematikan teleponku karena mamaku memanggilku. Aku diajak ke acara pernikahan kakak keponakanku yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalku.

Keesokan harinya. Aku tak sabar ingin bertemu dengan Daviet. Ku lihat jam yang terlihat manis di tanganku ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 14:30. Perasaanku mulai resah, arah mataku tertuju ke sana ke mari tak ku lihat sosok Daviet. 10 menit kemudian ia tiba dengan memakai kaos putih yang begitu cocok dengan warna kulitnya, matanya yang sipit membuatku begitu terkagum dengannya. Betapa beruntungnya aku bisa memilikinya. Ia memberiku aba-aba agar aku segera naik ke motornya.

“Maafin aku Ma. Aku dah bikin kamu kecewa di acara kita yang pertama ini. Tadi aku harus pulang dulu Ma,” ucapnya merasa bersalah.
“Nggak apa-apa kok sipitku, aku udah seneng banget kamu jadi ngajak aku jalan. Kita mau ke mana?” tanyaku.
“Ada deh,” jawabnya singkat. Sesampainya di sebuah tempat yang sudah tak asing lagi yaitu taman kota, Daviet menyuruhku menutup mata dengan kain yang ia berikan padaku. Aku hanya bisa menuruti apa perintahnya.

“Buka matanya sayang?”
“Hmm sipit.” mulai meneteskan air mata.
“Happy birthday my dear. Jangan nangis dong pacar aku nggak boleh cengeng,” ucapnya sambil mengusap air mataku.
“Ini kejutan pertama yang aku dapatkan selama aku berumur 16 tahun ini,” Jawabku sambil memeluknya.
“Hayo udah berani peluk-peluk nih Ma,” ledeknya.

Aku melepaskan pelukanku seraya menahan malu. Aku begitu bahagia hari ini. Ia menyiapkan surprise yang begitu membuatku terkagum yaitu menyiapkan sebuah tempat di tengah taman yang dilengkapi dengan kue dan hadiah untukku. Aku mengajaknya foto bareng sebagai tanda terima kasihku. Setelah waktu berjalan 1 jam ia mengajakku untuk pulang karena ia nggak mau nati aku kena marah mama. Sesampainya di rumah aku segera masuk ke kamar dan segera mandi. Aku hanya bisa memandangi foto-foto tadi, rasanya aku tidak ingin kehilangan dia. Seminggu setelah itu ia tidak ada kabar. Aku mulai resah dan ku coba untuk terus menghubunginya, namun semua hasilnya nol besar. Dua minggu telah berlalu ia masih belum ada kabar. Aku baru ingat ia punya teman yang namanya Roni mungkin ia bisa membantuku. Aku buka akun facebookku. Ku cari namanya dan ku inbok dia. 15 menit kemudian ia membalasnya.

“Gak tahu Ma. Beberapa hari ini Daviet gak sama aku soalnya aku ada praktek. Besok deh biar aku sampaikan ke Daviet, oke!” inboknya.
“Iya makasih ya Ron,” Keesokan harinya. “Ma.. Aku minta maaf gak ada kabar selama 2 minggu ini. Aku gak mau bikin kamu kecewa Ma,” inboknya yang ku lihat pagi ini.
“Maksud kamu apa?”
“Aku ingin menghindar dari kamu aja. Kita udahan aja ya,”

Seketika air mata ini membasahi pipiku. Aku begitu syok mendengarnya. Sahabat-sahabat yang kini berada di sampingku mencoba memotivasiku agar tetap semangat. Aku ingin berhenti menangis tapi air mata ini begitu mudah untuk mengalir. Apakah semua percintaan hanya akan berakhir seperti ini. Aku hanya bisa pasrah dengan semuanya. Aku percaya pasti suatu saat semuanya akan berubah menjadi sebuah kebahagiaan. Satu minggu kemudian. Hari ini aku ada rencana untuk pergi ke toko buku. “Brukk,” suara yang terdengar nyaring. Aku baru saja bertabrakan dengan seorang lelaki tampan.

“Eh maaf.. Maaf.. Aku nggak sengaja,”
“Hm aku juga minta maaf tadi aku nggak ngelihat depan soalnya,” ucapnya ramah.
Ia membantuku membereskan buku-buku yang berserakan di lantai.
“Ini buku kamu, kenalin aku Yosha.” sambil menyerahkan buku.
“Aku Rahma. Salam kenal, ngomong-ngomong makasih ya,”
“Oke. Aku ke sana dulu ya,”
Aku hanya mengangguk dan ku teruskan langkahku menuju kasir.

“Berapa Mbak?” tanyaku.
“Semuanya 190.000 Mbak,” Aku mulai mengambil dompet yang berada di tasku namun tak ku temukannya. Aku terus saja mencarinya namun juga tak ada. “Maaf Mbak saya nggak bawa uang,” ucapku.
“Ini mbak uangnya,” sahut lelaki yang baru aku kenal tadi.
“Nggak usah Yosha. Aku nggak mau ngrepotin kamu,” balasku.
“Nggak ngrepotin kok. Anggap aja itu tanda ucapan maaf aku tadi,” Ucapnya.
“Makasih kapan-kapan aku ganti kok uangnya. Aku anggap ini hutang,”
“Terserah kamu deh. Nama facebook kamu apa?”
“Rahma Anandya. Maaf aku buru-buru soalnya takut hujan,”
“Oke,”

Sesampainya di kamarku aku membuka buku yang tadi baru aku beli. Ku baca sambil memainkan ponselku. Ada satu inbok masuk dan ternyata itu dari Yosha. Kami mulai akrab sejak itu dan setelah kenal satu bulan ia mengajakku untuk pacaran. Sebenarnya aku takut bakal terulang untuk yang kedua kalinya. Aku bilang ke dia. “Yosha.. Aku sebenarnya sayang banget sama kamu tapi aku bimbang di satu sisi aku gak pengen kecewa lagi,” ucapku terbata-bata.
“Kamu gak usah takut Rara aku akan menjaga perasaan ini. Aku janji bakal bikin kamu bahagia, aku gak bakal kecewain kamu. Beri aku kesempatan Rara,” jawabnya meyakinkanku.

Tersenyum. “Ku kasih kamu kesempatan. Kamu janji ya Mr. Imutku,”
“Iya. Aku bakal jaga perasaan kamu,” Aku mulai kembali bahagia dan semoga perasaan ini bakal terus berjalan hingga nanti. Terima kasih Mr. Imutku yang telah membuat perasaan ini selalu nyaman berada di dekatmu.

Karangan: Linda Rahmawati

Facebook: Linda RahmaWati